Yakinkah Anda, Jika Anda Sudah Memiliki Kedekatan Sepenuhnya Dengan Keluarga..?

Alhamdulillah tidak terasa sepertiga ramadhan tahun ini hampir kita lalui. Teringat saat hari-hari menjelang ramadhan kemarin, berbagai mimpi dan rencana telah dipersiapkan, mulai dari target jamaah tarawih rutin hingga program khatam Al-Qur’an.

Bagaimana dengan anda? Mungkin anda memiliki program yang lebih dibanding saya, atau bahkan sudah mencapai beberapa kali khatam Al-Qur’an dalam 10 hari awal ramadhan ini. Amien… Semoga apapun rencana kita di bulan ini senantiasa mendapatkan kebarokahan dari Allah SWT.

Sahabatku, saya ingin sharing tentang kekuatan cinta dalam keluarga kita masing-masing. Seperti tampak pada gambar, tampak bidadari kecil yang di dalamnya menyimpan kekuatan yang tak tergantikan untuk terus memberikan energi buat saya. Dia tidak lain adalah putri kecil saya.

Yah, memang satu minggu ini merupakan hari-hari dimana saya bisa memuhasabahi/mengevaluasi diri saya, dimana dalam beberapa hari ini saya hanya berada di dalam rumah karena sakit, dan hanya menghabiskan waktu untuk istirahat, serta sesekali saya membuka laptop untuk membaca artikel2 terbaru dari rekan2 sesama blogger. Kadang istirahat, dan kadangpun hanya melamun.

Teringat dengan sebuah cerita beberapa hari sebelum ramadhan sebelum saya sakit, saat saya masih praktek di klinik, datang seorang ayah dengan anak laki2nya yang masih berusia 10 tahun. Saat itu, sang ayah mengeluhkan gigi depan anaknya yang tumbuh gingsul. mendengar keluhan ayahnya, saya pun mempersilakan anaknya untuk saya periksa giginya.

Alangkah terkejutnya saya ketika melihat gigi sang anak tersebut tidak hanya sekedar gingsul, tapi ternyata akar giginya sudah tampak mencuat melukai pipi bawahnya. Sesuai dengan aturan medis, sayapun menyarankan sang ayah agar gigi anaknya segera dicabut, karena memang itu adalah gigi susu yang seharusnya sudah tanggal satu tahun sebelumnya. Sang ayah pun mempersilakan kepada saya untuk mencabut gigi anaknya tersebut.

Lain ayah, maka lain lagi dengan anaknya. Sang anak ternyata sangat ketakutan dengan pencabutan gigi yang akan dilakukan terhadapnya. Ya biasa lah, Respon yang sangat wajar untuk anak seusianya. Bahkan yang sempat saya sesalkan adalah sang ayah malah memaksa sang anak dengan kemarahannya, yang spontan membuat anak semakin menangis di hadapan saya. Melihat keadaan itu, saya langsung menyarankan kepada sang ayah untuk membawanya pulang dan diberi pengertian terlebih dahulu di rumah.

Tidak lama, tepatnya 2 hari kemudian sang ayah dan anaknya datang kembali ke tempat praktek saya. Kondisi anak ternyata berbalik 180 derajat, yang awalnya sangat2 ketakutan, sekarang malah berbalik menantang saya untuk dicabut giginya. bahkan belum saya persilakan pun, dia langsung mengambil posisi untuk siap saya cabut giginya yang bermasalah.

Wah, saya sangat terpukau dengan kejadian itu, dan pencabutan gigi anak itu pun berjalan dengan lancar karena kekooperatifan si anak. Kontan setelah perawatan selesai saya lakukan, saya penasaran dan menanyakan kepada sang ayah mengenai resepnya untuk mengubah karakter anaknya berubah dari 2 hari sebelumnya. Sang ayah mengatakan, “Iya dok, butuh keistiqomahan dan ketelatenan. Saya hanya butuh izin tidak masuk kerja dua hari penuh hanya untuk dekat dengan anak, dan Alhamdulillah kedekatan ini berbuah hasil dok. Dia semakin dekat dengan saya dan buktinya tadi tidak begitu susah untuk saya ajak datang ke sini dan membuatnya berani untuk dicabutkan giginya.”

Mendengar ucapan sang ayah tadi, saya sempat terenyuh dalam batin saya. Betapa besar cintanya kepada anaknya, yang hanya karena masalah sepele saja, beliau sampai rela tidak masuk kerja 2 hari hanya untuk membangun kedekatan dengan anaknya.

Mungkin adalah hal yang wajar, ketika kita melihat anak sangat dekat dengan sang ibu, namun berapa orang ayah yang bisa menyaingi kedekatannya dengan anak jika dibandingkan dengan sang ibu.

Memang sudah tidak bisa dipungkiri dan semua orang pasti percaya, keluarga (anak+istri) memiliki kekuatan tersendiri terutama bagi seorang ayah untuk bekerja/membanting tulang. Namun alangkah indahnya apabila kita tidak menganggap pekerjaan di atas segala2nya. Pernahkah kita menanyakan pada istri/anak, apakah kesibukan kita yang berangkat pagi2 dan pulang malam2 akan membuat mereka bahagia? Padahal kita meyakini bahwa kebahagiaan adalah tujuan utama kita sehingga kita mau bekerja, bukan?

Mungkin sudah saatnya kita untuk meluruskan kembali niatan kita mencari kebahagiaan dengan semakin membangun kedekatan dengan anak istri hingga tak berbatas dan mulai mengevaluasi diri dihadapan anak dan keluarga. Karena bagaimanapun, kebahagiaan tidak bisa diukur dengan kesibukan atau banyaknya harta kita, namun setiap orang memiliki ukuran kebahagian masing2. Dan salah satu yang bisa menciptakan kebahagiaan kita adalah dengan membangun kedekatan keluarga seutuhnya.

Saya yakin di antara rekan2 terutama yang lebih senior ada yang memiliki tips2 khusus atau pengalaman menarik terkait membangun kedekatan yang sebenarnya dalam keluarga? Silakan di share bareng2 🙂

Wallahua’lam bisshowab

About the author

Woow Bangets

View all posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *