Tahukah Anda Bahwa Saling Memaafkan Pada Saat Idul Fitri Itu Sangatlah TIDAK PENTING..!!

Entah apa yang ada dalam pikiran kita pada saat kita berada di detik-detik akhir perjalanan bulan ramadhan tahun ini. Kalau dalam bahasa sepakbola, sekarang kita sudah berada di masa-masa Injury time tanpa extra time, dimana kemenangan/kekalahan kita sudah tampak di depan mata kita.

Hanya saja yang membedakan di sini, kita tidak mengetahui dengan pasti bagaimana nasib kita yang sebenarnya, apakah kita tergolong sebagai orang yang sukses mencapai target mengisi ramadhan kali ini atau justru sebaliknya.

Yang lebih menyedihkan lagi kita tidak akan pernah tau apakah kita masih akan berkesempatan untuk merasakan nikmatnya ramadhan tahun depan atau tidak. Wallahua’lam. Yang jelas, Insya Allah kita harus selalu optimis menyongsong bulan-bulan mendatang dengan penuh keyakinan 🙂

Sahabat, dalam menyambut idul fitri sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi kita untuk saling berma’afan antar sesama kita. Bahkan lebih enak lagi, saat ini media yang bisa kita manfaatkan sudah cukup banyak.

Saya teringat sekitar sepuluh tahun yang lalu bahkan lebih, media yang sangat populer sekali adalah kartu lebaran dalam bentuk fisik yang biasanya menumpuk di kantor pos menjelang lebaran, dan bahkan di rumah pun terkadang kartu lebaran yang datang bisa mencapai puluhan lembar. Beberapa orang masih banyak yang menggunakan metode ini walaupun sudah sagat jauh berkurang.

Kemudian mulai berkembang dengan mulai menjamurnya pemilik handphone, membuat orang2 cukup praktis mengirim ucapan idul fitri dan memohon maaf melalui ribuan macam lantunan puisi dalam sebuah SMS, sehingga memicu para operator handphone untuk menerbitkan paket SMS lebaran.

Dan yang sekarang sudah sangat populer adalah melalui situs jejaring sosial alias facebook. Dengan hanya bermodalkan gambar dan memakai sistem tagging gambar/foto, kartu lebaran pun sampai ke ribuan teman dengan mudah.

Namun sebenarnya apakah itu yang menjadi esensi dari saling memaafkan? tentu tidak, bukan? Dan akan sangat percuma apabila kita yang memaafkan hanyalah fisik tangan kita, tapi tidak dengan hati kita.

Mungkin karena saking besarnya kadar kesalahan teman terhadap kita dan sangat melukai hati kita, terkadang di suasana lebaran seperti sekarang ini pun, kita masih tidak sepenuhnya 100% membuka pintu maaf kita untuknya, atau mungkin hanya sekedar bersalaman namun dalam hati belum sepenuhnya memaafkan.

Inilah yang pada akhirnya membuat rasa saling memaafkan di waktu idul fitri ini menjadi sangat-sangat tidak penting untuk kita lakukan. So, hindari jauh-jauh ya sobat, agar kegiatan saling memafkan kita selalu menjadi hal yang sangat penting dan benar-benar kita rasakan manfaaatnya 😀

Ada 3 hal yang harus kita ingat saat kita saling bermaafan:

1. Aspek dalam hati kita. Ingatlah bahwa memaafkan seseorang sebenarnya adalah membebaskan hati kita sendiri dari penjara. Jika kita mau jujur, ketika hati kita dilukai oleh orang lain, yakinlah hati kita pasti akan resah karena ada perasaan dongkol, dengki, marah yang ada dalam diri kita. Itulah penjara yang saya maksud, penjara yang mengurung kita dalam kedongkolan, kedengkian, kemarahan yang sangat tidak penting untuk kita rasakan. Sebenarnya siapa yang rugi? kita sendiri, bukan? Lantas apakah kita tidak mau membebaskan diri kita dari penjara itu 🙂

2. Aspek kesehatan. Percaya atau tidak percaya, yakin atau tidak yakin, keresahan dalam hati kita akibat tidak maunya kita membuka pintu maaf kita akan mempercepat kerusakan kekuatan fisik kita cepat atau lambat. Mungkin anda pernah tau, bahwa resah/marah akan membutuhkan kekuatan fisik yang jauh lebih tinggi, syaraf-syaraf yang bekerja pun berlebih dibandingkan dengan kekuatan yang dibutuhkan oleh orang yang sedang tertawa. Seakan-akan syaraf kita diforsir bekerja untuk lebih ekstra layaknya mobil yang kita paksa melewati tanjakan terus-menerus sehingga mesinnya akan aus dengan lebih cepat. Apakah kita tega memperlakukan fisik kita bekerja sedemikian?

3. Aspek Spiritual. Bagaimanapun, tidak ada satu agama pun yang tidak mengajarkan nilai-nilai memaafkan. Artinya memaafkan dengan sepenuhnya adalah sesuatu yang mutlak kita lakukan, walaupun terkadang sangat berat untuk kasus tertentu.

Untuk itu sebelum lebih jauh menyambut lebaran ini, kita tata kembali hati kita yuk 🙂 agar kita bisa benar-benar maksimal membuka pintu maaf untuk rekan-rekan kita agar semuanya tidak sedikitpun berjalan percuma 🙂
Mungkin ada teman-teman yang ingin berbagi di suasana lebaran ini, monggo…. untuk memperkuat tali sillaturrahmi kita di dunia maya ini, terlebih di tengah hangatnya suasana idul fitri ini.. hehe…

Oiya… bukan bermaksud menarsiskan keluarga dengan gambar disebelah ini lho ya. Mungkin selama perjalanan blogging, atau apapun, mungkin ada sedikit banyak khilaf yang sengaja ataupun tidak disengaja, saya (Agustantyono H), Istri (Viranda Sutanti), Si Kecil (Z. Faizah Afnan) di suasana idul fitri ini menyampaikan mohon maaf yang sebesar-besarnya lahir maupun batin, semoga kita tetap diikat dalam sebuah tali sillaturrahmi yang utuh. Amien..
Jazaakumullahi Khoiron katsiiro…

About the author

Woow Bangets

View all posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *