Ingat..!!! Ada 2 (Dua) Kunci Kesuksesan Yang Seringkali Tidak Disadari Oleh Banyak Orang

Di sebuah kerajaan di timur tengah, hiduplah seorang raja bersama beberapa orang menterinya. Mereka memimpin sebuah kerajaan dengan sistem organisasi yang cukup rapi. Sistem pemerintahan di kerajaan tersebut terkenal sangat profesional dan selalu lugas mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi di kerajaan tersebut.

Pada suatu hari, sang raja kehilangan salah seorang menterinya yang meninggal dunia karena mengalami sakit kronis. Kondisi ini spontan membuat sistem pemerintahan di kerajaan tersebut menjadi tidak seimbang, sehingga sang raja pun mulai kalang kabut mengatur salah satu sistem yang seharusnya di komandoi oleh sang menteri yang meninggal dunia tadi. Hingga suatu saat muncullah sebuah permasalahan.

Permasalahan muncul pada saat kerajaan melaksanakan salah satu program kerja rutinnya yaitu pembagian hasil bumi kepada seluruh rakyatnya. Ternyata dalam pembagian itu, ada puluhan orang rakyat yang masih belum mendapatkan bagian dari hasil bumi tersebut. Keadaan ini membuat puluhan orang rakyat berdemo di depan kerajaan. Hal ini secara otomatis membuat kredibilitas kerajaan menurun dan banyak sekali rakyat yang mulai tidak respon terhadap pemerintahan.

Melihat kondisi tersebut, sang raja segera merencanakan untuk membenahi kembali struktur pemerintahannya dengan mempersiapkan tiga orang kandidat untuk segera diutus menjadi menteri sebagai pengganti menteri yang meninggal dunia sebelumnya. Hal ini ia lakukan semata-mata agar kondisi pemerintahan bisa kembali seimbang. Namun sang raja tampak kebingungan memilih salah satu dari tiga orang kandidat tersebut. AKhirnya sang raja memutuskan untuk memanggil 3 kandidat tersebut.

Baca Juga :   Pepatah Pegas - Motivasi Hidup Tanpa Henti

Tibalah pada suatu hari dimana sang raja memanggil tiga orang tersebut. Sang raja memanggil mereka secara bergantian, maka dipanggillah kandidat pertama dan langsung disodori dengan sebuah pertanyaan, “Menurutmu, apa yang membuat banyak rakyat tidak mendapatkan bagian dari pembagian hasil bumi beberapa waktu yang lalu?”. Mendengar pertanyaan ini, si kandidat pertama langsung menjawab, “Saya rasa kesalahan ini berawal dari kurang tegasnya instruksi menteri sementara yang telah engkau utus wahai raja, andaikan ia bisa lebih tegas, saya kira masalah ini tidak akan terjadi”. Mendengar jawaban itu, sang raja langsung mengucapkan terima kasih kepada si kandidat pertama, dan mempersilakannya untuk menunggu di luar terlebih dahulu.

Kemudian sang raja memanggil kandidat kedua, dan langsung disodorkan dengan pertanyaan yang sama seperti pertanyaan yang ia sodorkan kepada kandidat pertama. Si kandidat keduapun menjawab, “Wahai raja, saya kira permasalahan tersebut tidak mungkin terjadi apabila setiap pasukan memahami tugasnya masing-masing. Karena bagaimanapun kita adalah sebuah tim yang harus bekerja sama secara profesional dalam mengayomi rakyat”. Setelah menerima jawaban dari kandidat kedua ini, sang raja lantas mengucapkan terima kasih kepada kandidat kedua dan mempersilakan untuk menunggu di luar.

Baca Juga :   Menyelesaikan apapun dengan yang terbaik

Kemudian sang raja memanggil kandidat terakhir, dan seperti sebelumnya, sang raja langsung menyodori pertanyaan yang sama. Kandidat terakhir pun menjawab dengan sedikit berbeda, “Mohon maaf wahai raja, memang permasalahan yang telah terjadi kemarin memang murni kesalahan saya. Namun saya sudah mempersiapkan solusinya, Jika raja berkenan, ijinkan saya mengutus beberapa pasukan untuk kembali mengumpulkan data-data rakyat yang masih belum mendapatkan haknya tersebut besok, kemudian saya beserta pasukan akan segera membagikan hak-hak rakyat yang masih belum terpenuhi tersebut dalam dua hari ke depan”.

Sahabat-sahabatku, sudah sangat pasti ketika kita menyimak kondisi tersebut, pasti para sahabat akan menebak bahwa kandidat yang terpilih menjadi menteri adalah kandidat yang terakhir, bukan? 🙂 Karena bagaimanapun, sikap yang dicerminkan oleh kandidat terakhir menunjukkan sikap profesionalitas yang lebih dibandingkan dengan kandidat-kandidat yang lain.

Baca Juga :   Pepatah Pegas - Motivasi Hidup Tanpa Henti

Saya teringat dengan sebuah kalimat bijak yang menyebutkan bahwa “Seseorang bisa menjadi sukses karena ia memiliki sebuah cara, dan seseorang bisa menjadi gagal karena ia memiliki sebuah alasan“. Inilah yang ditunjukkan oleh kandidat terakhir tadi. Ia langsung memikirkan cara untuk mengatasi masalah tersebut, sedangkan dua kandidat sebelumnya terlalu sibuk memilih alasan-alasan yang lain. Dua poin inilah yang membedakan antara “Cara dan Alasan“.

Mungkin kita bisa merenungkan dengan kondisi kita saat ini. Sebenarnya lebih banyak yang manakah proporsi dalam diri kita antara “Banyaknya Cara dan banyaknya Alasan“? Memang di antara kita ada yang masih berpendapat bahwa kita diciptakan sebagai mahluk yang syarat dengan kekurangan sehingga kita tidak jarang beranggapan bahwa kekurangan itulah yang seringkali membawa kita pada kegagalan.

Namun alangkah bijaknya ketika kita bisa menutupi segala kekurangan itu dengan meningkatkan Cara dan sebisa mungkin menghapus alasan yang sering muncul tanpa kita sadari.

Sahabatku, ayo tunggu apa lagi 😀 , roketkan potensi kita dengan sejuta cara dan pendam dalam-dalam sejuta alasan yang menghambat kesuksesan kita!!!!

Wallahua’lam bisshowab

About the author

Woow Bangets

View all posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *